Monday, October 24, 2016

Bali Lombok


perjalanan suci ke berbagai pura demi lebih mendekat denganNya umat Hindu menamakan " tirtha yatra "


Tujuan agama atau dharma sesuai dengan keyakinan umat Hindu adalah untuk  mencapai ”moksa” ... ”Moksartham jagadhita ya caiti dharmah”. Pengertian yang dimaksudkan ialah demi  mencapai ”kebahagiaan rokhaniah” (moksa artham) dan ”kesejahteraan hidup lahiriah” (jagadhita). Moksa artinya ”pembebasan”, yaitu bersatunya Atman dengan sumbernya, yaitu Parama Atman (Tuhan). Pertanyaannya ialah ; seberapa banyak orang yang bisa mencapai moksa ? Di Bali, hanya Danghyang Nirartha atau Danghyang Dwijendra atau yang lebih dikenal dengan  sebutan Pedanda Sakti Wau Rauh (  diyakini berstana / dipuja di Pura Gunung Beleku Desa Gunung Sari Lombok Barat),   yang mencapai moksa. Beliau moksa pada abad 15 di pasraman Uluwatu (sekarang Pura Luhur Uluwatu).

Pura (miniatur sorga), tempat suci umat Hindu nan taat.

Demi lebih mengarah ke tercapainya tujuan agama itu, para umat Hindu lazim mengejawantahkannya dengan tindakan riil yakni  bertirtha yatra (melakukan perjalanan ke berbagai pura). Khususnya para penganut Hindu Bali lumayan banyak yang melakukan tirtha yatranya memadukan lokasi Bali Lombok yang nyata-nyata memiliki kedekatan geografis maupun historis. Jarak yang terbilang dekat, menjadikan Nusa kecil Bali dan pulau cabai Lombok membuat keduanya mirip persis secara geografis. Misalnya secara historis, orang suci kenamaan Hindu Danghyang Nirartha perjalanan sucinya juga hingga ke Lombok dengan bukti kongkrit beliau di puja di Pura Gunung Bleku Lombok Barat. Jika perjalanan tirtha yatra dilanjutkan sesuai Koran Tokoh edisi 889 februari 2016, tujuan berikutnya cocok ke Pura Jagatnatha Mayura, sereta Pura Narmada. Kedua pura dinfokan memiliki taman air yang selalu ramai dikunjungi, konon Pura Mayura tersebut dibangun oleh seorang raja beragama Hindu dari Tanah Bali  (Anak Agung Made Karangasem sekitar tahun 1744), artinya kekuasaan kerajaan Bali era itu hingga ke Lombok. Ada juga Taman Narmada di era Raja Anak Agung Ngurah Karangasem, sebagai tempat korban suci umat Hindu (pekelem saban purnama Kelima tahun Saka).  Taman Narmada itu lumayan unik, air taman diyakini mampu membuat awet muda beraroma cendana. Persembahyangan umat Hindu di areal Taman Narmada dilakukan di Pura Kelasa., selanjutnya perjalanan rohani tirtha yatra ke Pura Suranadi yang berstatus pura dangkahyangan jagat. Taman Suranadi menyajikan lima pancuran yang airnya diyakini dari Gunung Rinjani, maka jadilah Pura Suranadi berjulukan Pura Panca Tirtha. Berbagai penyakit diyakini bisa disembuhkan dengan air kelima pancuran tersebut  (Ngentas Mala). Mandi di Pancuran Pura Suranadi para penganut Hindu berkeyakinan memperoleh kehidupan yang baru (suranadi) Belumlah lengkap jika bertirtha yatra ke Lombok, kalau  sampai Pura Lingsar ketinggalan.  Di desa Lingsar lokasi puranya, berupa gabungan yang menunai kerukunan antara umat Hindu dan Islam. Kawasan pura terbagi dua, diutara ada Pura Gaduh (untuk Hindu) serta untuk umat Islam ada Pura Weku Telu (Kamaliq). Pengunjung pura wajib mengenakan selendang kuning, sebagai tanda penghormatan. Digunakan sebagai tempat beribadah dua agama, setahun sekali penganut dua agama melaksanakan upacara Perang Topat yakni perang berserana topat/ketupat sebagai penjaga kerukunan, maka ajeglah NKRI.




Sumber  : Koran Tokoh 889, febr. 2016
.

No comments:

Post a Comment

Baca juga yang ini